Showing posts with label child. Show all posts
Showing posts with label child. Show all posts

Jan 2, 2011

Temper Tantrum


Anak-anak pandai menunjukkan amarah dan perasaan emosi kuat mereka lainnya.
Puncak kemarahan yang meledak-ledak pada anak-anak terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun, namun bisa juga lebih muda. Banyak anak-anak terkadang terus bertingkah laku seperti itu sampai mereka berusia 4 atau 5 tahun, atau lebih tua, tetapi pada usia tersebut lebih mudah berunding dan membicarakan dengan anak anda apa yang membuat mereka meledak marah.

Semua ledakan ini sering disebut temper tantrum, disebabkan oleh perasaan marah yang tak dapat dikendalikan oleh anak anda, namun ada perasaan emosi kuat lainnya yang dapat dirasakan dengan baik oleh anak anda. Menjerit, melempar barang, membuat tubuh kaku, memukul serta berguling-guling di lantai atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu 

Kebiasaan temper tantrum akan lebih sering dilakukan bila anak mengetahui bahwa dengan cara itu keinginannya akan dipenuhi. Anak-anak balita yang mengalami sakit untuk waktu yang lama sering menunjukan kebiasaan ini setelah sembuh. Ini karena anak terbiasa memperoleh apa yang ia inginkan sehingga ia tidak mampu mentolerir frustasi.

Anak-anak yang diperlakukan tidak konsisten oleh orang tuanya dalam penangannan disiplin akan lebih sering menunjukan temper tantrum. Keadaan lain yang juga meningkatkan frekuensi temper tantrum adalah sikap orang tua yang cenderung mengkritik dan terlalu crewet.

Temper Tantrum terbentuk secara kondisional. Misalnya anak menjadi sering marah karena si ibu selalu dengan paksa menyuruh anak buang air kecil saat ia asyik bermain. Kemarahan yang awalnya timbul karena anak dihentikan dari aktivitas bermainnya, akhirnya beralih pasa situasi pergi ke kamar mandi bisa membangkitkan kemarahan anak. Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental serta yang mengalami hambatan dalam perkembangan bicara juga sering menunjukan temper tantrum, yaitu pada saat mereka gagal mengungkapkan maksudnya pada lingkungan.

Penanganan

Frekuensi temper tantrum atau mengamuk bisa dikurangi dengan cara menghindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak, tuntutan yang berlebihan atau pemberian tugas yang diluar kemampuan anak. Orang tua sebaiknya tidak bersikap sewenang-wenang dan tidak terlalu memegang teguh sikap-sikap keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak.

Yang paling penting adalah bersikap konsisten atau ajeg, namun tetap penuh kasih sayang.Keajegan memungkinkan anak belajar dari pengalaman-pengalamannya. Namun demikian,ini tidak berarti bahwa segala sesuatu harus berlangsung rutin tanpa pengecualian.Bagaimanapun juga, pengecualian dari apa yang sudah ditetapkan boleh saja dilakukansepanjang hal itu diperlukan dan tidak dilakukan demi mengikuti suasana hati orang tua semata.

Kebiasaan mengamuk sebaiknya diperlakukan dengan wajar dan tenang. Orang tua diharapkan secara terus-menerus bersikap tenang, kalem dan tidak terpancing untuk marah, konsistensi dan penuh pengertian. Sedapat mungkin abaikanlah adegan mengamuk tsb, sehingga anak menyadari bahwa ia tidak bisa memperoleh perhatian dengan kemarahannya itu. Anak harus belajar bahwa dengan mengamuk ia tidak akan mendapat apa yang ia inginkan.

Jangan sekali-sekali mencoba berargumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk. beberapa saat setelah amukan berakhir atau mereda merupakan saat yang baik untuk mengatakan bahwa caranya itu salah dan tidak bisa diterima. Di atas itu semua, perlu diketahui bahwa, dalam batas-batas tertentu, mengamuk adalah hal yang wajar terjadi pada anak-anak.

Menghadapi Tantrum si Kecil
Sebagai orang tua, sebaiknya Anda melihat kecenderungan tantrum pada  anak sebagai ekspresiyang sehat. Namun terkadang orang tua kewalahan menghadapi Tantrum si kecil. Menghilangkan tantrum 100 persen tentu bukan pekerjaan mudah. Berikut ini beberapa cara untuk meminimalkan kemarahan si kecil. 

Cobalah menerapkan cara ini sesuai situasi, dan pastikan bahwa orang-orang yang membantu Anda mengasuh si kecil menggunakan cara yang sama dengan Anda.

Cobalah tenang
Kepanikan Anda menghadapi tantrum si kecil akan menyulut kemarahannya. Melihat Anda tidak dapat mengendalikan diri, anak akan panik dan sulit mengendalikan dirinya juga. Si kecil membutuhkan sosok yang dapat menularkan ketenangan untuk mengontrol situasi, karena keterbatasannya mendalikan diri di usia ini. Ia juga membutuhkan kepastian bahwa dalam situasi apa pun Anda masih mencintainya. Ingat-ingat penyebabnya

Cobalah menuliskan di dalam agenda Anda, apa penyulut kemarahan si kecil. Terkadang tantrum disebabkan anak terlalu lelah, lapar, atau terlalu banyak stimulasi. Jika ini penyebabnya,cobalah menghindari keadaan ini. Kemungkinan lain, tantrum si kecil hanya muncul jika iadibawa ke supermarket. Jika demikian, batasi kepergian ke supermarket dengan membawa sikecil.

Berbicalah dengan halus namun mantap
Jika Anda berteriak maka si kecil akan membalas dengan teriakan yang lebih hebat. Namun jika Anda dapat berbicara dengan intonasi yang halus namun mantap, hal ini akanmembatu si kecil mengatasi diri. Terkadang karena terlalu halus suara yang Anda ucapkan,si kecil tidap dapat mendengar. Hal ini justru menguntungkan, karena biasanya ia akanterdiam berkonsentrasi pada apa yang Anda ucapkan.

Singkirkan keinginan menggunakan hukuman fisik. Tantrum si kecil terkadang membuat orang tua kesal, sehingga tanpa sadar orang tuamenjatuhkan hukuman fisik seperti memukul atau mencubit agar si kecil diam. Hal inimerupakan pertanda bahwa Anda pun telah kehilangan kontrol diri. Bagaimana memintasi kecil belajar mengontrol dirinya, jika orang tuanya sendiri tidak mampu mengontrol diri sendiri?

Jangan berdebat
Mengajak si kecil berdebat selama kemarahannya meledak tidak ada gunanya. Pada saat ini si kecil dapat diharapkan berpikir rasional. Tunggulah hingga is sudah dapat menggunakan logika berpikirnya kembali, baru ajak ia berdiskusi.

Jaga anak dari kemungkinan celaka
Terkadang si kecil banyak menggunakan gerakan memukul atau mendang. Jika hal ini tidal diwaspadai dapat mencelakai dirinya sendiri, atau orang di sekitarnya. 

Cobalah mengajak anak ke tempat yang lebih aman, misalnya tidurkan ia di tempat tidur, atau ikatkan tali penagaman jika ia mengamuk di kereta dorongnya. Jika tidak mungkin, cobalah untuk memegang,atau memeluknya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain mencegah kemungkinan celaka, dengan memegang atau memeluk, si kecil merasa Anda membantunya menyatukan ‘bagian’ dari dirinya yang telah ‘hancur berkeping-keping’.Pelukan erat juga membantu meluruhkan kemarahan, baik bagi si kecil maupun Anda.

Tunjukan empati
Tunjukan bahwa Anda mengerti perasaan si kecil. Misalnya dengan berkata,”Ibu tahu sulit rasanya jika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. Ibu juga sering merasa kecewa dan marah jika ibu tidak mendapatkan apa yang ibu inginkan”.

Coba alihkan perhatian anak
Kadang-kadang ada anak yang sulit sekali mengatasi tantrum-nya. Campur tangan orang tua bahkan dapat memperburuk kemarahannya. Jika ini terjadi, cobalah alihkan perhatiannya dengan mengajaknya melakukan permainan yang telah lama tidak dilakukannya, atau perdengarkan lagu-lagu gembira favoritnya. Cara lain yang dapat dicoba adalah humor misalnya dengan mengatakan,”Apa pun yang kamu lakukan, jangan ketawa!! Eh…, lho kok malah ketawa”.

Berikan waktu jeda
Jika si kecil tidak dapat mengontrol dirinya untuk waktu yang cukup lama, cobalah untuk memberikan waktu jeda. Misalnya, biarkan ia menyendiri di dalam lmarnya hingga kemarahannya reda. Namun tentunya semua itu harus dibawah pengawasan anda. Pastikan bahwa ia aman berada sendiri di dalam kamarnya.

Jangan takut jika tak mereda
Jika Anda tidak dapat meredakan tantrum-nya, jangan terlalu cemas. Mungkin ia memang membutuhkan waktu untuk mengekspresikan emosinya. Setelah ia merasa lega, maka semua akan segera berakhir.

Jan 1, 2011

Ketika Anak Periang Berubah Jadi Pendiam Ketika di Keramaian


Buah hati Anda yang periang berubah menjadi anak pendiam saat berada di keramaian atau di sekolah? Bisa jadi, si kecil mengalami mutism.

Bila iya, bagaimana cara mengatasinya? saat berada di rumah, Arida begitu riang. Bocah berusia enam tahun itu juga sangat suka bercanda.

Selain celoteh-celoteh lucu, bocah kecil itu juga tak henti-hentinya bertanya kepada sang bunda tentang sesuatu yang tak diketahuinya. Ia juga sangat suka menceritakan berbagai hal kepada bunda dan ayahnya. Namun, saat berada di sekolah, sikap Arida bertolak belakang. Di sekolah atau di tempat keramaian, ia mengalami kesulitan berkomunikasi. Mutism, itulah yang dialami Arida. Mutism adalah keadaan anak tidak mau berkomunikasi dengan orang lain, entah itu di sekolah, di tempat bermain atau di keramaian. Di tempat-tempat seperti itulah, anak cenderung betah menutup mulutnya rapat-rapat. Anak bahkan cenderung tidak menggubris keberadaan anak atau orang lain di sekelilingnya. Padahal, di rumah, anak-anak mutism merupakan anak-anak biasa, yang penuh kepercayaan diri bercerita tentang apa saja. Tentu saja hal ini membingungkan orang tua, atau bahkan guru-guru di sekolah.
Tidak jarang anak mutism atau anak yang menjadi pendiam ketika berada di luar rumah dianggap anak yang tidak bisa bergaul atau bersosialisasi dengan baik. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada pula anak mutism yang tidak berbicara dengan guru-gurunya, tetapi berbicara dengan teman-temannya. Atau ada pula anak yang berbicara dengan ayahnya, namun tidak berbicara dengan ibunya. Anak-anak yang mengalami gejala seperti itu biasanya dikenal dengan istilah selective mutism. Namun sayang sekali, selective mutism bukan sesuatu yang populer di antara orang tua dan guru.
Ketidaktahuan orang tua dan guru mengenai selective mutism ini mengakibatkan berbagai reaksi. Sebagian besar orang tua dan guru menganggap bahwa anak tersebut memang pasif dan pendiam, dan tentunya ini bukan masalah besar bagi mereka karena mereka menganggap masing-masing anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Beberapa orang tua bahkan melakukan hal yang lebih ekstrem, misalnya memaksa anak untuk berbicara dengan berbagai cara, seperti memukul supaya anak mau berkomunikasi. Perlakuan yang salah oleh orang tua dan guru dengan cara seperti itu, sebenarnya bukanlah penyelesaian masalah. Yang harus dicari oleh orang tua ataupun guru adalah mencari apa yang membuat anak tidak mau berbicara. Dunia internasional mengenal selective mutism pada anak sebagai gangguan yang terjadi sebelum usia 5 tahun. Gangguan ini biasanya diketahui saat anak memasuki usia sekolah.
Menurut Pedoman Penggolongan Gangguan Kejiwaan yang dikeluarkan oleh Asosiasi Psikologi Amerika, selective mutism didefinisikan sebagai gangguan yang terjadi saat anak tidak berbicara minimal pada lokasi-lokasi tertentu yang memerlukan komunikasi, misalnya di rumah saja, di sekolah saja, atau di tempat bermain. “Untuk mengetahui anak mengalami gangguan selective mutism, ada beberapa ciri yang perlu diperhatikan, seperti anak secara kontinu tidak berbicara pada kegiatan atau tempat tertentu di mana anak diharapkan untuk berbicara, misalnya di sekolah, di tempat les, atau di tempat bermain,” kata psikolog anak dari Universitas Indonesia (UI), Sandra M Psi.

Ciri lain yang bisa memberikan petunjuk kepada orang tua, kalau anak mereka mengalami gangguan selective mutism adalah jika anak tidak berbicara minimal satu bulan, juga kegagalan anak berbicara tidak berhubungan dengan kurang pengetahuan, merasa tidak nyaman.“Tidak mengerti bahasa yang diucapkan misalnya, bukanlah ciri dari anak yang menderita gangguan selective mutism. Anak dengan gangguan tersebut, biasanya diam tanpa alasan yang jelas,” Sandra menambahkan.

Untuk mengetahui seorang anak mengalami selective mutism, orang tua perlu mendatangi psikolog atau psikiater. Hal itu juga untuk memastikan tidak ada gangguan yang berhubungan dengan fungsi pendengaran dan verbal. “Sebelumnya orang tua dapat mengunjungi dokter anak atau dokter spesialis THT (tenggorokan, hidung, dan telinga), untuk memastikan apakah anak mengalami kelainan fungsi pendengaran. Jika tidak terdapat gangguan pada pendengaran, segeralah bawa buah hati ke psikolog atau psikiater,” tuturnya.
Selective mutism, menurut Sandra, juga tidak berkaitan dengan gangguan komunikasi lainnya misalnya gagap. Bahkan, anak-anak dengan selective mutism juga menampilkan rasa cemas, rasa malu yang berlebihan, takut dipermalukan secara sosial, dan menarik diri. “Satu-satunya ciri utama selective mutism pada anak adalah anak tidak berbicara di tempat tertentu atau dengan orang tertentu.

Sedangkan gejala secara fisik, sama sekali tidak ada bedanya dengan anak seusianya,” tambah psikolog berambut sebahu tersebut. Jika anak dibawa ke dokter, Sandra mengatakan, anak akan menjalani pemeriksaan oral-motor yang meliputi pemeriksaan koordinasi dan kekuatan otot mulut, rahang, dan lidah. “Kalau tidak ditemukan gangguan secara fisik, berarti anak memang mengalami selective mutism yang harus segera ditangani oleh orang tua,” tuturnya lagi. (Okezone.com)

Cara Mengenali dan Mengasah Bakat Anak




JAKARTA, KOMPAS.com - Bakat tidak sama dengan kecerdasan. Bakat lebih mengacu pada motorik maupun keterampilan yang ditampilkan anak. Dengan kata lain, bakat bisa terlihat oleh orang lain.

Cara yang dilakukan adalah terus-menerus mengasah bakat melalui latihan. Bakat tidak akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga kemudian hilang. Selain bakat, mereka juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti. Adanya minat juga akan menguatkan bakat tersebut.

Sedikit Bantuan

Bagaimana bisa mengetahui kalau anak kita berbakat? Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, anak-anak yang berbakat umumnya lebih cepat menguasai bidang tertentu dibanding anak lain, tanpa mengeluarkan usaha keras.

Contohnya anak yang berbakat menyanyi, akan lebih mudah mengenali not, ketajaman nadanya juga bagus. Anak yang berbakat dalam bidang linguistik atau bahasa, bisa meniru atau menghafal bahasa asing lebih cepat.
 
Begitu anak yang mempunyai bakat menggambar atau melukis. Kualitas garis yang dimiliki anak tersebut akan terlihat lebih halus. Mereka mengerti warna, komposisi yang dibuat juga lebih bagus dan menarik.

Anak yang berbakat juga bisa mempelajari sesuatu dengan cara berbeda dibanding anak lain. “Anak berbakat hanya memerlukan sedikit bantuan dari orang dewasa. Mereka kerap memecahkan masalah dengan caranya sendiri,” ungkap perempuan yang menyelesaikan MA dalam bidang Applied Anthropology & Community and Youth Work Goldsmith College University of London.

Anak yang senang mengutak-atik mainan merupakan wujud dari minatnya terhadap benda tersebut. Baginya, mengutak-atik mainan merupakan eksplorasi dari keingintahuannya lebih lanjut.

Anak yang mempunyai bakat biasanya juga mampu memotivasi diri sendiri untuk mempelajari hal-hal yang sangat disukainya. Anak yang senang bermain piano atau berenang tak hanya berlatih saat gurunya datang. Mereka akan berlatih piano atau berenang tanpa disuruh.
 
“Idealnya, bakat yang dimiliki oleh anak sejalan dengan minatnya. Dengan begitu, potensi atau kemampuan yang dimiliki anak akan tergali secara optimal, sehingga anak mampu berprestasi,” tutur Clara.
 
Bangkitkan Minat

Sayangnya tak semua bisa berjalan beriringan antara bakat dan minat. Ada anak berbakat yang ternyata tidak berminat dengan bakat yang dimilikinya. Bila ini terjadi, kata psikolog lulusan UI ini, diperlukan dukungan lebih banyak dari orangtua, agar bakat anak bisa terasah secara optimal.

Kalau tidak mendapat dukungan dari orangtua atau dibangkitkan minatnya, bakat yang dimiliki anak tidak akan berkembang. Bisa saja anak tersebut agak lambat untuk mengembangkan kemampuannya, terutama ketika menyadari bahwa ia mempunyai bakat dalam bidang tertentu.

Madonna contohnya. Di usia 40 tahun, saat sudah mempunyai dua anak, ia membuat buku anak. Bakat yang dimilikinya baru disadari saat dirinya menjadi seorang ibu.
Sebenarnya hal serupa juga bisa terjadi pada anak yang mempunyai minat dalam bidang tertentu, tetapi tidak berbakat. Contohnya anak ingin mengikuti Indonesia Idol, tetapi tidak mempunyai bakat menyanyi. Nah, pada anak tipe ini, dibutuhkan usaha yang lebih keras dibandingkan anak berbakat. Caranya tentu saja dengan mengikuti les vokal untuk mendapat suara yang baik.

Yang penting, tambah Clara, orangtua perlu memperkaya minat anak. Jangan sampai anak hanya terpaku dengan satu minat saja. Anak yang berminat pada sepakbola, misalnya, sebaiknya juga dikenalkan dengan kegiatan lain.

“Katakan pada anak bahwa olahraga tidak hanya sepakbola. Masih ada kegiatan lain, seperti seni, yang bisa dikenalkan,” kata Clara.

Cara mudahnya adalah dengan mengenalkan anak kepada teman-teman sebaya yang mempunyai beragam minat dan bakat.

Lakukan Tes Bakat
1.       Ada beberapa cara untuk mengenali bakat anak, yaitu: Melihat tingkah laku anak. Kegiatan apa yang sering dilakukannya? Anak lebih berminat pada hal-hal apa?
2.       Mengikuti perkembangan anak dengan cermat.
3.       Memberikan berbagai macam stimulus atau rangsangan kepada anak, misalnya dengan memberikan les atau permainan yang variatif.
4.       Melakukan tes psikologi (tes bakat) untuk melihat kelebihan dan kelemahan anak. Tes ini bisa dilakukan saat anak berusia 7 tahun atau saat masuk sekolah. Pada usia tersebut sudah terlihat bakat serta minat anak.
Pahami Perkembangan Anak

Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat memberikan les untuk anak.
1.       Tidak mengutamakan pencapaian target. Penting diingat bahwa les diberikan sebagai upaya pengenalan kegiatan kepada anak.
2.        Les sebaiknya diberikan oleh guru yang memahami perkembangan anak. Jangan sampai guru memberi hukuman saat anak tidak bisa mengikuti les. Clara mencontohkan, saat anaknya harus les piano, selalu menangis bila sudah sampai di tempat les. Setelah ditilik, rupanya guru les kerap mencubit atau memukul tangan anaknya bila tidak bisa mengikuti instruksi sang guru.
3.        Pastikan anak tetap memiliki waktu yang seimbang untuk bermain dan istirahat.
4.       Jangan memaksakan kehendak kepada anak. Yang harus diutamakan adalah minat anak.
5.       Tetap pantau perkembangan anak.
6.       Upayakan untuk mengembangkan semua aspek kemampuan anak.
Bakat Saja Tidak Cukup!
Psikolog Clara Kriswanto menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup. Setidaknya diperlukan tiga hal lain yang akan mengasah potensi anak :
a.       Harus ada dukungan dari orangtua maupun lingkungan
Dukungan yang diberikan tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dukungan moril. Memberikan pujian (tanpa berlebihan dan terlalu sering) saat anak menunjukkan kemampuan juga menjadi bentuk dukungan. Bentuk dukungan juga bisa diberikan dengan tidak membanding-bandingkan anak dengan saudara atau temannya, apalagi sampai mendapat label negatif.
b.      Tidak berhenti berusaha
Kalau anak tidak berminat, padahal mempunyai bakat di bidang seni atau olahraga, hendaknya orangtua tidak menyerah. Bisa saja anak merasa malas karena terlalu banyak les, hingga kelelahan. Ada baiknya tidak mengikutkan les terlalu banyak bagi anak. Orangtua hendaknya tidak memaksakan kehendak pada anak. Hukuman fisik seperti mencubit atau memukul saat anak tidak berlatih harus dihindari. Hukuman dapat membuat anak tidak tertarik pada kegiatan tersebut.
c.       Berikan fasilitas yang memadai
Fasilitas yang diberikan tidak harus selalu mahal. Sediakan fasilitas sesuai kemampuan orangtua

BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?


BAGAIMANA MENGAJAR ANAK CERDAS ISTIMEWA ?


Dalam kegiatan mengajar, keberadaan siswa cerdas istimewa sering terabaikan. Hal ini disebabkan ketidakpahaman guru maupun sekolah dalam mengidentifikasi, memahami dan mengetahui berbagai hal tentang keberadaan siswa cerdas istimewa.

CERDAS ISTIMEWA?

Menurut Renzuli, anak cerdas istimewa adalah anak yang memiliki tiga komponen diatas rata-rata teman sebaya, yaitu Intellegence Quotient lebih dan sama dengan 130,Task Comitment dan Creativity Quotient diatas rata - rata (3). Dengan alat ukur ini maka siswa berhak mendapatkan pelayanan pendidikan khusus yang bersifat individual untuk lebih memaksimalkan kemampuan mereka. Masalahnya muncul karena masih banyak guru yang belum mengenal karakteristik anak cerdas istimewa dan bentuk pelayanan yang tepat untuk memaksimalkan potensi terpendam mereka. (amanat Undang-undang No.2 Th 1989 tentang Sisdiknas pasal 24 ayat 6 dan Undang-undang Sisdiknas No.20 Th 2003 pasal 5 ayat 4).

Guru dapat melakukan pengamatan dini dengan memperhatikan beberapa karakteristik seperti diatas. Beberapa karakteristik lainnya diantaranya adalah seperti yang diungkap Prof. Dr. S.C. Utami Munandar yaitu mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat. Namun selain karakteristik positif diatas, anak cerdas istimewa juga memiliki karakter negatif diantaranya tidak sabaran, tidak suka campur tangan orang lain, tidak suka hal yang rutin, sensitif dan menyukai berpikir kompleks.

BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN MEREKA?

Karena mendapatkan pelayanan khusus merupakan hak mereka, maka semua sekolah wajib melakukan perbaikan dan pembenahan dalam menangani anak cerdas istimewa. Memang ada beberapa sekolah yang melaksanakan program akselerasi sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak cerdas istimewa, namun keberadaan mereka yang mungkin ada di setiap populasi (hasil penelitian menyebutkan 2 - 5 % dari jumlah populasi potensial cerdas istimewa) masih belum dapat merasakan pelayanan yang tepat, maka semua sekolah wajib memberikan layanan kepada mereka dengan maksimal.


Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan pendampingan pendidikan kepada anak cerdas istimewa diantaranya adalah :

Pertama, kurikulum yang dipakai adalah kurikulum nasional dan lokal yang telah dimodifikasi dengan memasukan unsur pengayaan, pendalaman dan pemilihan materi essensi sehingga kurikulum dapat bersifat fleksibel dan mampu merangsang daya kreatif siswa. Kurikulum ini disebut dengan kurikulum berdiferensiasi. Guru dituntut untuk dapat melakukan rekayasan kurikulum secara cerdas sehingga memungkinkan guru dan siswa melakukan improvisasi dalam kegiatan belajar.

Kedua, metode pembelajaran. Karena karakteristik anak cerdas istimewa salah satunya adalah cepat bosan dan senang melakukan proyek sendiri, maka guru dituntut untuk kreatif dan cepat tanggap terhadap tingkat kebutuhan siswa. Siswa cerdas istimewa cenderung mudah bosan dengan materi yang bersifat hapalan dan banyak menulis. Memberikan tugas atau proyek dengan skala besar dan membutuhkan perhatian yang ekstra dan menantang sangat digemari mereka. Misalnya menugaskan siswa untuk mempersiapkan materi tertentu untuk kemudian mereka presentasikan di depan teman-temannya.

Ketiga, evaluasi. Evaluasi siswa cerdas istimewa harus dibedakan dengan siswa lainnya. Untuk mereka guru tidak bisa hanya menggunakan satu jenis tes seperti "pen and paper test". Guru bisa menguji mereka dari kemampuan presentasi, cerita, pentas drama, proyek, lisan, quiz atau membaca buku dengan bobot nilai diperlakukan dengan ulangan harian. Untuk memberi score pun lebih baik tidak terpaku pada angka 100, namun guru dapat memberikan nilai 120 atau 130 apabiila siswa mampu memberi jawaban lebih dari yang diharapkan. Hal ini akan meningkatkan motivasi mereka untuk meraih nilai optimal.

Sumber :http://www.smun2-mlg.sch.id/id/artikel/253-mengajar-anak-cibi